Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Orang yang psikopat cenderung melakukan segala sesuatu tanpa ada beban. Hal ini karena salah satu ciri psikopat adalah sudah melakukan kesalahan tapi ia tetap tidak merasa bersalah.
"Orang yang psikopat itu tidak punya rasa bersalah sama sekali dan penilaian moralnya sudah tidak ada, karena itu dia enjoy saja melakukannya," ujar Efnie Indrianie, MPsi saat dihubungi detikHealth, Senin (28/3/2011).
Efnie menuturkan ada dua kategori dari perilaku buruk manusia yaitu:
1. Anti sosial
Orang yang anti sosial umumnya masih memiliki sedikit rasa bersalah dan punya kecenderungan untuk melanggar normal. Terkadang orang yang anti sosial itu tahu kalau apa yang dilakukannya itu salah, tapi tetap saja dilakukan.
2. Psikopat
Orang yang psikopat sudah tidak punya rasa bersalah sama sekali, jadi kalau dia menipu, berbohong atau bahkan membunuh dia enjoy dan plong saja menjalaninya. Tapi tidak mudah untuk mendeteksi orang yang psikopat.
"Secara intelektual orang psikopat adalah orang yang pintar, charming dan orang lain tidak akan sadar bahwa ia adalah psikopat. Umumnya ia punya skill, kemampuan cara bergaul misalnya kalau berteman dengan orang lain biasa saja dan punya relasi yang normal," ujar dosen psikologi klinis di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung.
Efni menambahkan jika orang yang psikopat melakukan kesalahan baik itu menipu, berbohong atau membunuh maka ia bisa menunjukkan ekspresi yang tenang, memiliki perilaku yang biasa saja dan bisa menyimpannya dengan rapi sehingga tidak diketahui oleh orang lain.
Menurutnya, ada sebuah studi yang menjelaskan bahwa orang psikopat yang ditangani dengan jalur hukum itu sangat sedikit karena tidak mudah mendeteksinya. Hal ini karena ia punya skill (kemampuan) tertentu yang membuat orang lain tidak menyadari bahwa orang tersebut adalah psikopat.
"Karena itu sangat sulit atau tidak mudah untuk mendeteksinya dan kadang orang lain akan menjauh kalau sudah tahu seseorang adalah psikopat," ungkapnya.
Sekilas antara orang yang anti sosial dan psikopat terlihat sama, tapi hal yang membedakannya adalah pada psikopat ia sama sekali tidak memiliki rasa bersalah. Dan sampai saat ini belum ada riset yang berhasil menemukan cara atau terapi yang efektif untuk mengatasi psikopat ataupun anti sosial.
"Tidak mudah untuk mendeteksi orang psikopat karena harus melalui pemeriksaan yang intensif. Terkadang orang yang ingin menolong atau mendeteksinya justru menjadi korban dari psikopat ini," ujar psikolog yang berpraktik di Melinda Hospital Bandung.
Untuk mendeteksi perilaku psikopat bisa melalui serangkaian pemeriksaan psikologi yang intensif untuk mengetahui apakah mentalitasnya masih normal atau tidak, serta pemeriksaan secara mendalam (anamnesis) untuk melihat proses kehidupannya.
Pemicu dari perilaku ini bervariasi, misalnya dari sisi latar belakang kehidupannya perlu dilihat apakah ia pernah mengalami kekerasan, disiksa atau pernah ditinggal oleh orang yang dicintainya. Selain itu kadang kondisi ini disebabkan oleh adanya kelainan di daerah otak tertentu.
Di dalam berbagai buku yang berkaitan dengan kejiwaan baik itu anti sosial, psikopat, schizofrenia, gampang panik, OCD (obsesif compulsif disorder) atau gangguan kepribadian diklasifikasikan secara umum sebagai kelainan perilaku (behaviour disorder).
(ver/ir)
source: www.detik.com
Selasa, Maret 29, 2011
Senin, Maret 21, 2011
1 Hari Saja untuk Bersihkan Racun Tubuh
Jakarta, Detoks atau proses mengeluarkan racun-racun di tubuh merupakan satu hal yang penting untuk dilakukan. Cukup meluangkan 1 hari saja untuk detoks ini.
Beberapa orang mulai membiasakan diri meluangkan waktu 1 hari dalam seminggu untuk detoks setelah tubuh terus-terusan berbagai makanan. Tapi ada juga yang melakukannya 2 minggu sekali atau 1 bulan sekali tergantung kebutuhan.
Kapan waktu yang tepat untuk detoks?
Pakar kesehatan mengatakan tubuh perlu melakukan detoks setelah tidak pernah berhenti konsumsi berbagai makanan. Biasanya orang memilih 1 hari biasa untuk detoks bukan saat libur.
Makanan yang masuk ke dalam tubuh bisa menjadi racun karena mengandung lemak jahat dan kolesterol yang bisa dibersihkan lewat detoks. Mengeluarkan racun dengan detoks bisa membersihkan pencernaan dan meningkatkan kekebalan tubuh.
Pengeluaran racun lewat detoks ini bisa melalui air seni, keringat dan feses.
Seperti dilansir Buzzle, Senin (21/3/2011) detoks 1 hari bisa dilakukan dengan cara:
1. Mulailah hari dengan minum air 8 gelas air putih.
Agar tubuh tidak kaget minum air banyak, lakukan pelan-pelan atau beri jeda beberapa menit setiap 1 gelas.
Minum air putih adalah cara termurah untuk mengeluarkan racun dan menjaga tubuh tetap hidrasi.
2. Siapkan jus buah dan sayuran tanpa gula yang dibuat sendiri dari rumah atau bisa juga dengan minum teh herbal.
Jus ini bisa diminum kapan saja dalam satu hari tersebut. Siapkan juga buah-buahan atau sayur yang dikonsumsi saat lapar.
3. Puasa untuk membersihkan dan mengistirahatkan perut.
Jika tidak mampu berpuasa karena alasan medis bisa tetap makan tapi hanya makan buah dan sayur organik. Tidak boleh ada unsur karbohidrat, lemak atau protein karena tujuannya mengistirahatkan usus-usus di perut.
4. Lakukan olahraga teratur selama 30 menit per hari.
Olahraga adalah sarana yang bagus untuk mengeluarkan racun lewat keringat. Pilih olahraga yang banyak mengeluarkan keringat seperti bersepeda, jogging, renang.
5. Selama melakukan detoks jauhkan diri dari minuman alkohol, kopi, teh, minuman ringan, dan yang paling penting jangan merokok.
Saat melakukan detoks pertama kali biasanya orang akan merasakan berat karena hanya makan dan minum buah dan sayuran saja. Tapi dengan semangat membersihkan tubuh maka detoks bisa dijalani dengan mudah karena hasilnya juga sebanding.
(ir/ir)
source: www.detik.com
Beberapa orang mulai membiasakan diri meluangkan waktu 1 hari dalam seminggu untuk detoks setelah tubuh terus-terusan berbagai makanan. Tapi ada juga yang melakukannya 2 minggu sekali atau 1 bulan sekali tergantung kebutuhan.
Kapan waktu yang tepat untuk detoks?
Pakar kesehatan mengatakan tubuh perlu melakukan detoks setelah tidak pernah berhenti konsumsi berbagai makanan. Biasanya orang memilih 1 hari biasa untuk detoks bukan saat libur.
Makanan yang masuk ke dalam tubuh bisa menjadi racun karena mengandung lemak jahat dan kolesterol yang bisa dibersihkan lewat detoks. Mengeluarkan racun dengan detoks bisa membersihkan pencernaan dan meningkatkan kekebalan tubuh.
Pengeluaran racun lewat detoks ini bisa melalui air seni, keringat dan feses.
Seperti dilansir Buzzle, Senin (21/3/2011) detoks 1 hari bisa dilakukan dengan cara:
1. Mulailah hari dengan minum air 8 gelas air putih.
Agar tubuh tidak kaget minum air banyak, lakukan pelan-pelan atau beri jeda beberapa menit setiap 1 gelas.
Minum air putih adalah cara termurah untuk mengeluarkan racun dan menjaga tubuh tetap hidrasi.
2. Siapkan jus buah dan sayuran tanpa gula yang dibuat sendiri dari rumah atau bisa juga dengan minum teh herbal.
Jus ini bisa diminum kapan saja dalam satu hari tersebut. Siapkan juga buah-buahan atau sayur yang dikonsumsi saat lapar.
3. Puasa untuk membersihkan dan mengistirahatkan perut.
Jika tidak mampu berpuasa karena alasan medis bisa tetap makan tapi hanya makan buah dan sayur organik. Tidak boleh ada unsur karbohidrat, lemak atau protein karena tujuannya mengistirahatkan usus-usus di perut.
4. Lakukan olahraga teratur selama 30 menit per hari.
Olahraga adalah sarana yang bagus untuk mengeluarkan racun lewat keringat. Pilih olahraga yang banyak mengeluarkan keringat seperti bersepeda, jogging, renang.
5. Selama melakukan detoks jauhkan diri dari minuman alkohol, kopi, teh, minuman ringan, dan yang paling penting jangan merokok.
Saat melakukan detoks pertama kali biasanya orang akan merasakan berat karena hanya makan dan minum buah dan sayuran saja. Tapi dengan semangat membersihkan tubuh maka detoks bisa dijalani dengan mudah karena hasilnya juga sebanding.
(ir/ir)
source: www.detik.com
Label:
artikel
Trik 20/20/20 untuk Cegah Mata Rusak Akibat Komputer
Jakarta, Mata pedih adalah keluhan paling umum saat bekerja terlalu lama di depan komputer. Keluhan ini jika dibiarkan bisa berkembang menjadi kerusakan yang menyebabkan pandangan kabur. Untuk menghindarinya, terapkan aturan 20/20/20.
"Mata manusia didesain untuk melihat obyek 3 dimensi. Di layar monitor, mata dipaksa untuk menatap obyek 2 dimensi," ungkap Andrea Thau, OD dokter mata dari American Optometric Association seperti dikutip dari MSNBC, Senin (21/3/2011).
Pemaksaan tersebut menurut Thau menyebabkan otak bekerja lebih keras untuk menafsirkan gambar yang ditangkap oleh mata. Otak yang kelelahan akan menyebabkan pemrosesan sinyal cahaya dari mata terganggu, kemudian dirasakan sebagai keluhan mata kabur.
Selain itu, normalnya mata manusia baru bisa melihat dengan nyaman apabila fokusnya berada pada jarak minimal 20 kaki (sekitar 6 meter). Saat berada di depan komputer, mata kembali dipaksa untuk memfokuskan pandangan pada jarak kurang dari 2 kali (sekitar 60 cm).
Pemaksaan-pemaksaan itu memicu beberapa keluhan yang disebut sebagai computer vision syndrome (CVS). Gejalanya antara lain mata kering, sakit kepala dan jika dibiarkan terus menerus akan mengakibatkan pandangan tampak kabur atau tidak fokus.
Menurut Thau, mengatasi sindrom tersebut tidak harus dilakukan dengan menyingkirkan komputer dari kehidupan sehari-hari karena bagaimanapun manusia butuh teknologi untuk menunjang produktivitasnya. Yang perlu diubah hanya cara menggunakannya.
Bagi orang-orang yang pekerjaannya menuntut untuk duduk berjam-jam di depan komputer, dianjurkan untuk menerapkan aturan 20/20/20. Artinya tiap 20 menit, sempatkan untuk memalingkan pandangan dari layar monitor selama 20 detik ke titik lain yang berjarak 20 kaki (sekitar 6 meter).
Selain itu, jangan lupa untuk berkedip karena rata-rata orang hanya berkedip 6 kali/menit ketika sedang asyik di depan komputer. Agar bola mata tidak kering dan terasa pedih, kelopak mata harus selalu berkedip sebanyak kurang lebih 16 kali/menit.
Jika memungkinkan, posisikan layak monitor agar tidak lebih tinggi dari mata, minimal sejajar. Jika terlalu tinggi maka kelopak mata cenderung bekerja lebih berat untuk berkedip dan membasahi bola mata, sehingga ujung-ujungnya jadi lupa untuk berkedip.
(up/ir)
source: www.detik.com
"Mata manusia didesain untuk melihat obyek 3 dimensi. Di layar monitor, mata dipaksa untuk menatap obyek 2 dimensi," ungkap Andrea Thau, OD dokter mata dari American Optometric Association seperti dikutip dari MSNBC, Senin (21/3/2011).
Pemaksaan tersebut menurut Thau menyebabkan otak bekerja lebih keras untuk menafsirkan gambar yang ditangkap oleh mata. Otak yang kelelahan akan menyebabkan pemrosesan sinyal cahaya dari mata terganggu, kemudian dirasakan sebagai keluhan mata kabur.
Selain itu, normalnya mata manusia baru bisa melihat dengan nyaman apabila fokusnya berada pada jarak minimal 20 kaki (sekitar 6 meter). Saat berada di depan komputer, mata kembali dipaksa untuk memfokuskan pandangan pada jarak kurang dari 2 kali (sekitar 60 cm).
Pemaksaan-pemaksaan itu memicu beberapa keluhan yang disebut sebagai computer vision syndrome (CVS). Gejalanya antara lain mata kering, sakit kepala dan jika dibiarkan terus menerus akan mengakibatkan pandangan tampak kabur atau tidak fokus.
Menurut Thau, mengatasi sindrom tersebut tidak harus dilakukan dengan menyingkirkan komputer dari kehidupan sehari-hari karena bagaimanapun manusia butuh teknologi untuk menunjang produktivitasnya. Yang perlu diubah hanya cara menggunakannya.
Bagi orang-orang yang pekerjaannya menuntut untuk duduk berjam-jam di depan komputer, dianjurkan untuk menerapkan aturan 20/20/20. Artinya tiap 20 menit, sempatkan untuk memalingkan pandangan dari layar monitor selama 20 detik ke titik lain yang berjarak 20 kaki (sekitar 6 meter).
Selain itu, jangan lupa untuk berkedip karena rata-rata orang hanya berkedip 6 kali/menit ketika sedang asyik di depan komputer. Agar bola mata tidak kering dan terasa pedih, kelopak mata harus selalu berkedip sebanyak kurang lebih 16 kali/menit.
Jika memungkinkan, posisikan layak monitor agar tidak lebih tinggi dari mata, minimal sejajar. Jika terlalu tinggi maka kelopak mata cenderung bekerja lebih berat untuk berkedip dan membasahi bola mata, sehingga ujung-ujungnya jadi lupa untuk berkedip.
(up/ir)
source: www.detik.com
Label:
artikel
